KDNY (Kabar Dari New York):
M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York
“For
me, Islam does make more sense,” ujar Alina. Dan akhirnya, gadis
keturunan Rusia yang telah menetap di California ini mengikrarkan diri
masuk Islam
Sekitar tiga bulan lalu, the Islamic Forum kedatangan seorang peserta
baru. Seorang gadis berkulit putih dan tinggi semampai memasuki ruang
kelas itu dengan pakaian muslimah yang sangat rapih. Pada awalnya
memang saya mengira bahwa dia adalah seorang Muslimah keturunan Albania
. Bahkan sangkaan saya ini berminggu-minggu, hingga suatu ketika saya
tanyakan “when did you convert?”. Dengan sedikit tersipu dia menjawab: “I am still learning. I really want to know more before taking any decision”. Saya tentunya terkejut dengan jawaban itu. Sebab selama ini dia menampilkan diri di kelas persis seperti Muslim.
Kata-kata “insya Allah”, “masya Allah”, dll., keluar dari mulutnya persis seorang Muslimah.
Bahkan dalam beberapa kasus, dia terkadang menyelah penjelasan saya
dengan tambahan, atau beberapa kali mengoreksi poin yang dianggapnya
kurang tepat. Setiap waktu pun shalat pasti ikut melakukan shalat
dengan jama’ah lainnya.
Ketika seorang non Muslim menanyakan tentang gambar dalam Islam, apakah
boleh atau tidak? Saya menjelaskan bahwa itu tergantung gambar apa dan
bagaimana serta untuk tujuan apa. Dia kemudian seolah mengoreksi bahwa “pictures of living creatures are not allowed. I read about this in the hadith Imam”,
selahnya. Dalam beberapa kesempatan terpaksa saya harus jelaskan bahwa
menyampaikan Islam itu mutlak memakai “pendekatan” yang tidak
sekaligus.
Senin, 04 Januari 2010
Gadis Rusia Dapat Hidayah
Direktur Itu Bersyahadat
Ketika pertama kali mengikuti kelas the Islamic Forum, wanita ini cukup menyebalkan sebagian peserta. Pasalnya, orangnya seringkali tertawa lepas, bersuara keras dan terkadang dalam mengekpresikan dirinya secara blak-blakan. Bahkan tidak jarang di tengah-tengah keseriusan belajar atau berdiskusi dia tertawa terbahak. Hal ini tentunya bagi sebagian peserta dianggap kurang sopan. Theresa, demikian dia mengenalkan dirinya, sangat kritis dan agresif dalam menyampaikan pandangan-pandangannya. “From what I’ve learned I do believe Islam is the best religion”, katanya suatu ketika. (watch 1.5 million Americans converted to ISLAM in USA
“but why women can not express themselves freely as men?, lanjutnya.
Dalam sebuah diskusi tentang takdir dan bencana alam, tiba-tiba Theresa menyelah “wait..wait…what? I don’t think God will allow people to suffer”. Ternyata maksud Theresa adalah bahwa Allah itu Maha Penyayang dan tidak mungkin akan menjadikan hamba-hambaNya menderita. Dia menjelaskan bahwa tidak mungkin bisa disatukan antara sifat Allah Yang Maha Pemurah dan penyayang dan bencana alam yang terjadi di berbagai tempat.
Biasanya saya memang tidak terlalu merespon secara serius terhadap pertanyaan atau pernyataan si Theresa tersebut. Saya tahu bahwa dia memang memiliki kepribadian yang lugas dan apa adanya, dan sangat cenderung untuk merasionalisasi segala hal. Belakangan saya tahu bahwa Theresa dengan nama akhir (last name) Gordon, ternyata adalah direktur sebuah rumah sakit swasta di Manhattan. Kedudukannya itu menjadikannya cukup percaya diri dan berani dalam mengekspresikan dirinya.
Baca Selengkapnya dan Rajinlah membaca..!!!
Kekaguman Katherine Wesley
KDNY (Kabar Dari New York):
Awalnya,
ia hanya ingin meneliti Islam, khususnya fikih dan perbandingan hukum
Islam. Tapi, ia mengaku “jatuh cinta” pada Islam. Sejak dua bulan
terakhir ini, the Forum for non/new Muslims membahas tafsir S.
Al-Hujurat Al-Quran. Rupanya metode pembahasan dengan menjelaskan kata
per kata cukup menarik bagi banyak peserta. Memang di antara peserta
itu sudah ada yang pernah mengambil kursus bahasa Arab. Sehingga
pembahasan ayat-ayat Al-Quran dengan pendekatan “kata per kata” dan
mendalami makna ayat-ayatnya dengan mendalami makna dari setiap kata
menjadi daya tarik tersendiri.
Hari pertama saja, ketika saya menjelaskan kata ‘aamanuu’ pada ayat “yaa aayuhalladzina aamanuu laa tuqaddimuu……dst”, mengambil waktu yang cukup panjang untuk menjelaskan semua makna yang terkait dengan kata itu.
Dimulai dari kata “amina-ya’manu-amnun” yang berarti “aman”, hingga “aamana-yuuminu-I’maan wa amaanah” yang berarti “amanah” atau kepercayaan.
Duduk di salah satu sudut ruangan yang tidak terlalu luas itu, seorang
gadis bule. Wajahnya putih bersih dan penuh senyum, tapi menampakkan
sikap pemalu. Sesekali gadis itu menyelah seolah-olah membenarkan
penjelasan saya, atau menguatkan argumentasi-argumentasi yang saya
berikan.
Saya memang agak terkejut. Apalagi gadis ini belum saya kenal dengan baik. Maka, dalam sebuah sesi hari Sabtu itu saya Tanya, “may I ask you?”
“Yes sir!” jawabnya sopan.
“Do you speak Arabic?”, tanyaku.
“Oh no!”, katanya malu-malu. “But I took some course on Arabic”, lanjutnya.
"Di mana anda mengambil kursus Arab, dan bagaimana tingkat bahasa Arab mu?" tanyaku.
Dengan sedikit tertawa dia mengatakan, “Jujur saya malu mengatakannya. Saya baru pemula.”
“Saya juga pemula! Jawab saya sambil bercanda.
Mengislamkan Amerika : Catatan Dakwah Dai Muda Asal Indonesia di Amerika
KDNY (Kabar Dari New York):
M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York
SINOPSIS
: Setelah Jum’atan, ditemani seorang Sister, Margarita menemui saya di
depan pintu. Dengan sedikit canggung, dia menyampaikan keinginannya
untuk resmi menjadi seorang Muslimah. Alhamdulillah, disaksikan oleh
ribuan jamaah, Margarita diiringi oleh linangan airmata
berikrar,”Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan
Rasul Allah”, disambut dengan pekikan takbir berkali-kali oleh para
hadirin.” *Mengislamkan Amerika, itulah barangkali cita-cita
ustadz muda Syamsi Ali. Ia hijrah ke negeri adidaya itu bukan untuk
mencari nafkah atau berhura-hura. Syamsi merelakan diri jauh dari tanah
air kesayangan, untuk menyambung misi Rasulullah saw., menyebarkan
dakwah Islam. Liku-liku, pengalaman dan materi dakwahnya di kediamannya
New York dan negara-negara bagian lain diabadikan dalam buku ini.
Syamsi Ali, lahir di Kajang-Sulawesi Selatan, 5 Oktober 1967. Syamsi
kecil menyelesaikan Sekolah Dasar di kampung halamannya suku Kajang,
Sulsel. Untuk memperdalam ilmu agama, orangtuanya kemudian
menyekolahkan Syamsi ke Pondok Pesantren Muhammadiyah “*Darul-Arqam* “,
Makasar. Setelah tamat dari pesantren tahun 1987, Syamsi remaja
mengabdikan diri sebagai staf pengajar di almamaternya hingga akhir
1988. Saat itu mendapat tawaran beasiswa dari *Rabithah Alam Islami*
untuk melanjutkan studi ke *International Islamic University*,
Islamabad, Pakistan. Tahun 1992 ia menamatkan program sarjana (S-1)
dalam bidang Tafsir Al- Qur’an. Kuliahnya berlanjut pada universitas
yang sama dan menyelesaikan magister (S-2) dalam bidang Perbandingan
Agama pada tahun 1994. Selama studi pascasarjana di Pakistan, Syamsi
muda juga bekerja sebagai staf pengajar pada sekolah *Saudi Red
Crescent Society* di Islamabad. Dari sekolah itulah kemudian ia
mendapat kesempatan untuk mengajar pada *Islamic Education Foundation*
Jeddah, Saudi Arabia di awal 1995. Itu yayasan pendidikan milik Amir
Mamduh, adik Raja Fahd.
”Adzan itu Masih Terngiang di Telingaku”
KDNY (Kabar Dari New York):
M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York
Sabtu
9 Juni lalu, saya datang ke Islamic Cultural Center of New York lebih
awal. Selain ingin melihat dari dekat jalannya Weekend School (sekolah
akhir pekan), juga sekretaris menelpon kalau ada seseorang yang ingin
bertanya tentang Islam. Saya minta agar dipersilahkan datang setelah
Zuhur sehingga bergabung dengan the Islamic Forum for non Muslims,
kelas khusus setiap pekan bagi orang-orang non-Muslim yang ingin
mengetahui lebih jauh mengenai ajaran Islam. Tapi rupanya, orang
tersebut hanya bisa sebelum jam 12 siang itu.
Sekitar pukul 11 pagi masuklah seorang wanita bule dengan kerudung yang
rapih. Saya sedikit terkejut sebab ketika masuk ke ruangan saya dia
mengucapkan salam dengan sangat fasih, bahkan hampir saja saya mengira
kalau yang bersangkutan itu adalah orang Syam (Palestina, Jordan atau
Libanon).
Saya kemudian mempersilahkannya duduk dan bertanya: “Hi, what’s your name and where are you from?” Dengan sedikit tersenyum dia menjawab: “Hi,. I am Jemie. I am from here but my parents are from Texas”. Saya ingin tahu kefasihan dia dalam bersalam, maka saya tanya: “How come you said salaam in way that’s so perfect? I tended not to believe that you’re an American”. “Oh..I know Arabic and speak it fluently” jawabnya cepat.